Ketika Anak Pertamaku Mulai Menyukai Oseng Tempe + Kacang Panjang
Ketika Anak Pertamaku Mulai Menyukai Oseng Tempe + Kacang Panjang
![]() |
| Disclaimer : Gambar hanya ilustrasi |
Setiap anak punya selera makan masing-masing, dan sering kali berubah seiring waktu. Anakku yang pertama—laki-laki—awalnya termasuk tipe yang pilih-pilih makanan. Salah satu hidangan yang dulu paling ia hindari adalah oseng tempe dengan kacang panjang. Baginya, sayur itu “nggak enak” dan tempenya “aneh”.
Tapi semua mulai berubah ketika ayahnya mencoba memberi penjelasan sederhana kepadanya. Dengan cara yang pelan dan penuh pengertian, ayahnya bilang bahwa tempe itu sehat, bikin tubuh kuat, dan kacang panjang bisa membantu anak tumbuh tinggi. Penjelasan itu bukan hanya sekadar teori, tapi disampaikan sambil makan bersama, sambil memberi contoh bahwa oseng tempe itu sebenarnya enak.
Tanpa disadari, pendekatan itu berhasil. Dari yang awalnya tidak suka, lama-lama ia mulai mencoba meski hanya sedikit. Sampai akhirnya—pelan tapi pasti—ia mulai menyukainya.
Sekarang, justru ia yang paling sering meminta dimasakkan oseng tempe + kacang panjang. Kadang baru pulang sekolah sudah bilang, “Ma, nanti masak tempe kacang panjang lagi ya.” Melihat perubahan itu rasanya menyenangkan sekali. Makanan sederhana, tapi membawa cerita perkembangan selera makan seorang anak.
Sebagai orang tua, aku jadi sadar bahwa anak-anak memang hanya butuh pendekatan yang sabar, contoh nyata, dan penjelasan yang mudah mereka pahami. Dari tidak suka, menjadi favorit. Dari menolak, menjadi meminta lagi dan lagi.
Siapa sangka? Hidangan sederhana ini sekarang jadi salah satu menu paling sering diminta di rumah—dan setiap kali memasaknya, aku selalu teringat bagaimana proses kecil itu terjadi.

Posting Komentar