ZMedia Purwodadi

Pengalaman Tak Menyenangkan Saat Membawa Anak ke Dokter: Saat Empati Diuji

Table of Contents

Pengalaman Tak Menyenangkan Saat Membawa Anak ke Dokter: Saat Empati Diuji

🩺 Opini: Saat Empati Dokter Diuji – Pengalaman yang Harus Jadi Pelajaran


Senin, 10 November 2025, seharusnya menjadi hari biasa — hari ketika seorang ibu membawa anaknya yang sakit ke dokter untuk mendapatkan pengobatan. Namun, hari itu berubah menjadi pengalaman yang menyakitkan dan sulit kulupakan.


Aku datang bersama suami, membawa anak bungsuku yang baru berusia 1 tahun. Ia sedang batuk pilek, bahkan keluar cairan seperti ingus dari telinganya — sesuatu yang jelas membuatku cemas. Sudah dua kali kami berencana kontrol, tapi selalu tertunda karena anak keduaku (5 tahun) baru saja selesai opname di rumah sakit, dan suamiku juga sempat sakit. Bahkan, anak bungsuku sempat kutitipkan selama seminggu demi menjaga yang sakit di rumah sakit.


Dengan segala kelelahan dan kekhawatiran, aku tetap bertekad membawa si kecil ke dokter. Tapi ternyata, bukan ketenangan atau solusi yang kami dapatkan — melainkan kemarahan dan perlakuan yang menyakitkan.


---


Saat Ruang Pemeriksaan Menjadi Tempat yang Menakutkan

Begitu masuk ke ruang periksa, dokter laki-laki yang menyambut kami langsung berbicara dengan nada tinggi dan kasar, bahkan tanpa sempat mendengar penjelasan.


Dengan bahasa Jawa yang keras dan menekan, ia berkata:

> “Kontrol ra jelas, nyalah-nyalahke wong liyo!”

> (“Kontrol tidak jelas, malah menyalahkan orang lain!”)

Lalu lanjut dengan kalimat lain yang lebih menusuk:

> “Aku rak perduli kowe pak ning Hong Kong opo pak ning ndi.”

> (“Aku tidak peduli kamu mau ke Hong Kong atau ke mana.”)


Dan masih banyak kata serupa yang membuat suasana makin tidak nyaman.

Aku mencoba menjelaskan dengan tenang — bahwa kami tidak bisa kontrol sebelumnya karena anak kami dirawat di rumah sakit, dan suamiku pun sedang sakit. Tapi dokter itu tidak mau mendengar apa pun. Tanpa memeriksa, tanpa bertanya, tanpa tindakan medis, ia malah menyuruh kami keluar menuju farmasi, seolah-olah masalah sudah selesai.


Aku keluar dari ruang itu dengan rasa marah, kecewa, dan nyaris menangis. Aku hanya ingin anakku diperiksa — bukan dimarahi, bukan dihakimi.


---


Dokter Adalah Profesi Mulia, Tapi Empati Harus Tetap Ada

Aku sadar, dokter juga manusia. Mereka bisa lelah, stres, bahkan jenuh menghadapi banyak pasien setiap hari. Tapi menjadi dokter bukan hanya soal ilmu medis — ini juga tentang empati dan kemanusiaan.


Seorang dokter tidak hanya menyembuhkan tubuh, tapi juga menenangkan hati.

Dalam setiap pasien, ada cerita dan pergulatan batin yang tidak selalu tampak di permukaan.


Ketika dokter kehilangan empati, pasien kehilangan rasa aman. Padahal, kata-kata lembut bisa lebih menyembuhkan daripada resep yang panjang.


---


Ketika Pasien Datang Membawa Harapan, Bukan Masalah

Kami datang bukan untuk menyulitkan, bukan untuk menyalahkan, tapi untuk mencari pertolongan. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya sakit. Tidak ada ibu yang sengaja menunda kontrol tanpa alasan.


Tapi hari itu, aku justru merasa bukan sedang berobat, melainkan dihakimi.

Kejadian seperti ini tidak hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga bisa membuat pasien trauma untuk berobat di kemudian hari.


---


Pelajaran untuk Semua: Kesehatan Butuh Hati

Pengalaman ini mengingatkanku bahwa kesehatan tidak hanya tentang obat dan tindakan medis, tapi juga tentang kepekaan manusiawi.

Empati seharusnya menjadi bagian dari pelayanan kesehatan — bukan bonus, tapi kewajiban moral.


Karena seringkali, yang dibutuhkan pasien bukan hanya obat yang menyembuhkan, tetapi perlakuan yang menenangkan.


---


🌿 Penutup

Kisah ini bukan untuk menyalahkan, tapi untuk mengingatkan:

bahwa di balik setiap pasien, ada hati yang rapuh dan harapan yang besar.

Semoga ke depan, tidak ada lagi orang tua yang harus pulang dari ruang periksa dengan air mata, bukan rasa lega.

I'in Parsiyani
I'in Parsiyani Hi everyone! I’m I'in — a teacher, a mom and a content creator. In here I will be sharing my stories, experiences, and little bits of what I’ve learned with all of you.

Posting Komentar