Selalu Terlambat Berangkat Kerja Karena Anak Kedua yang Rewel
Selalu Terlambat Berangkat Kerja Karena Anak Kedua yang Rewel
Saya seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK swasta di Kota Pekalongan. Sudah lebih dari sekali saya merasa tidak enak hati karena sering terlambat datang ke sekolah. Hampir setiap pagi saya harus ijin masuk terlambat, dan penyebab utamanya adalah anak kedua saya yang masih berusia 5 tahun.Anak saya yang kedua, seorang anak laki-laki yang aktif sekaligus manja, hampir setiap hari membuat suasana pagi di rumah menjadi penuh drama. Membujuknya untuk bangun tidur saja sudah butuh perjuangan. Setelah itu, tantangan berikutnya adalah memandikannya—yang biasanya disambut dengan tangisan atau alasan untuk menunda. Belum lagi soal sarapan, ia sering menolak makanan yang sudah disiapkan, dan malah merengek minta jajan yang tidak sehat.
Sementara itu, kakaknya yang berusia 9 tahun sudah harus berangkat sekolah dasar. Saya, suami, dan si kakak sering jadi terburu-buru, bahkan tidak jarang ikut terlambat karena urusan dengan si adik belum selesai.
Sebagai seorang guru, saya merasa tidak nyaman. Guru seharusnya memberi teladan kedisiplinan, tapi kenyataannya saya justru sering datang terlambat. Meski pihak sekolah masih memaklumi, tetap saja ada rasa bersalah yang menggelayuti hati.
Namun, dari semua kerepotan ini saya belajar satu hal: menjadi orang tua itu adalah perjalanan penuh kesabaran. Anak kedua saya mungkin terlihat rewel, tapi sebenarnya ia sedang belajar mencari perhatian dan mengekspresikan dirinya. Saya hanya perlu terus melatih diri untuk lebih sabar, mencari strategi yang tepat agar pagi kami bisa lebih lancar.
Saya percaya, seiring waktu, anak saya akan belajar mandiri. Semoga perlahan kebiasaan “rewel di pagi hari” ini bisa berubah, sehingga saya pun bisa kembali berangkat kerja dengan tenang tanpa perlu merasa bersalah karena terlambat.


Posting Komentar